Dengan jemari ini
Kukirim padamu pelangi buatanku
Tanpa merah, biru, hijau ataupun ungu
Lengkungnya hanya terdiri dari
Hitam…
Abuabu…
Putih…
Lalu hitam lagi,
Abuabu lagi,
dan kemudian putih lagi
Juga tak ada sapuan kabut tipis disekelilingnya
Apalagi udara basah sehabis hujan
Jangan mengharapkan itu, kumohon!!
Disekitar pelangi buatanku masih kosong, putih.
Bukan karena aku tak mahir melukis pohon, air, hujan, bukan sayang.
Kubiarkan seperti itu agar kau mengisinya, dengan crayon milikmu.
Tentu saja tanpa hitam, abuabu dan putih.
Read More......
Tampilkan postingan dengan label Karya Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Puisi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Maret 2009
Oase malam......
saat itu kulihat dirimu…
satu bersinar,
kecil menggoda..
terang diantara saudara lain..
oase ditengah kegelapan malam…
kaukah disana ?
slalu dengarkan…
kaukah disana ?
perwujudan semuanya….
Kau…
Berputar keras..
Buatku pusing kepala…
Entah di depan..
Belakang..samping…
Menghilang…
Tapi…
Kau selalu disana..
Terangmu kecil, slalu menerangiku..
Kaukah itu …?
Oase dikala malam tiba..
Tiap hari..
Mulai detik ini..
Kita terus berjumpa..
Takkan terpisahkan…
Read More......
satu bersinar,
kecil menggoda..
terang diantara saudara lain..
oase ditengah kegelapan malam…
kaukah disana ?
slalu dengarkan…
kaukah disana ?
perwujudan semuanya….
Kau…
Berputar keras..
Buatku pusing kepala…
Entah di depan..
Belakang..samping…
Menghilang…
Tapi…
Kau selalu disana..
Terangmu kecil, slalu menerangiku..
Kaukah itu …?
Oase dikala malam tiba..
Tiap hari..
Mulai detik ini..
Kita terus berjumpa..
Takkan terpisahkan…
Read More......
Label:
Karya Puisi
Embun
embun dipagi hari
menetes seperti tiada salah
bening mememukau bak kala tak berdosa
dingin…. menyelimuti alam
burung kerkicau dengan suara merdu
semuanya menerima dengan suka cita
jikalau matahari udah tinggi
semuanya hilang ditelan
embun… kamu adalah penyejuk sesaat
kamu adalah pembawa kedamain sementara
apakah kamu tidak merasa rugi
embunpun menjawab
aku memang diciptakan untuk penyejuk dipagi hari
karna pagi adalah awal dari segalanya
dikalau yg menerima dengan suka cita berarti damailah hatinya
karna aku diciptakan untuk pembawa kedamain
diriku bertanya..
apakah aku bisa seperti embun
yang slalu membawa kedamaian
sebagai penyejuk hati semua yang ada disekelilingku
aku mau
aku ingin
aku ingin seperti embun dipagi hari
tapi aku …….
Read More......
menetes seperti tiada salah
bening mememukau bak kala tak berdosa
dingin…. menyelimuti alam
burung kerkicau dengan suara merdu
semuanya menerima dengan suka cita
jikalau matahari udah tinggi
semuanya hilang ditelan
embun… kamu adalah penyejuk sesaat
kamu adalah pembawa kedamain sementara
apakah kamu tidak merasa rugi
embunpun menjawab
aku memang diciptakan untuk penyejuk dipagi hari
karna pagi adalah awal dari segalanya
dikalau yg menerima dengan suka cita berarti damailah hatinya
karna aku diciptakan untuk pembawa kedamain
diriku bertanya..
apakah aku bisa seperti embun
yang slalu membawa kedamaian
sebagai penyejuk hati semua yang ada disekelilingku
aku mau
aku ingin
aku ingin seperti embun dipagi hari
tapi aku …….
Read More......
Label:
Karya Puisi
Elegi Sebuah Senja
“Sampai nanti”,
Kau berkata padaku sambil melambai,
Kemudian engkau kembali meneruskan langkah.
Di jalanan yang dahulu pernah kita lalui bersama.
Sejenak aku terlelap dalam gamang,
Kutatap cakrawala yang memerah,
Melatari siluet sosok mu yang perlahan menjauh.
Sebuah elegi bersenandung dalam senjaku di akhir bulan,
Mulai riuh dalam dentang-dentang benakku
Setelah sosoknya lenyap dalam batas pandang.
Saat gamang ku mulai reda,
kutatap dengan sebentuk senyum yang tulus
“inilah kematian kecil”
“perpisahan adalah kematian kecil”
“selamat jalan dedariku”
Dan jalanan pun kian sepi, menggelap.
Read More......
Kau berkata padaku sambil melambai,
Kemudian engkau kembali meneruskan langkah.
Di jalanan yang dahulu pernah kita lalui bersama.
Sejenak aku terlelap dalam gamang,
Kutatap cakrawala yang memerah,
Melatari siluet sosok mu yang perlahan menjauh.
Sebuah elegi bersenandung dalam senjaku di akhir bulan,
Mulai riuh dalam dentang-dentang benakku
Setelah sosoknya lenyap dalam batas pandang.
Saat gamang ku mulai reda,
kutatap dengan sebentuk senyum yang tulus
“inilah kematian kecil”
“perpisahan adalah kematian kecil”
“selamat jalan dedariku”
Dan jalanan pun kian sepi, menggelap.
Read More......
Label:
Karya Puisi
Senyum Dipagi Djanuari
“Selamat pagi”
Engkau berucap padaku
Lirih tapi dengan senyum manis.
Sejenak sepi,
Kemudian aku menyambut
“Selamat pagi”
Dengan senyum yang sama
Dengan wajah yang sama
Untuk berharap senyum yang tulus lagi.
Kemudian desah angin pagi berhembus lembut
Mengantarkan senyum manismu
Di pagi bulan januari.
Besok aku harus pergi,
Mengunjungi kota yang jauh.
Entah kapan akan kembali
Dan menjumpai engkau tersenyum padaku.
Read More......
Engkau berucap padaku
Lirih tapi dengan senyum manis.
Sejenak sepi,
Kemudian aku menyambut
“Selamat pagi”
Dengan senyum yang sama
Dengan wajah yang sama
Untuk berharap senyum yang tulus lagi.
Kemudian desah angin pagi berhembus lembut
Mengantarkan senyum manismu
Di pagi bulan januari.
Besok aku harus pergi,
Mengunjungi kota yang jauh.
Entah kapan akan kembali
Dan menjumpai engkau tersenyum padaku.
Read More......
Label:
Karya Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)

![Validate my Atom 1.0 feed [Valid Atom 1.0]](valid-atom.png)